Minggu, 26 Mei 2019

Profil Doni Garcia Moreno Pasaribu

Profil Singkat

Doni Garcia Moreno Pasaribu
Lahir di Pematang Siantar 05 juni 1995

Lulus dari SMK Cinta Rakyat, Pematang Siantar tahun 2013.
Setelah lulus dari sekolah, berangkat ke Jakarta sempat bekerja di Jakarta di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang kontruksi di Danau Sunter, Jakarta Utara. (kurang lebih 6 bulan)
2014 masuk kuliah di Institut Pertanian Stiper Yogyakarta mengambil jurusan Budidaya Pertanian yang fokus mempelajari Managemen Perkebunan Kelapa Sawit.

Selama kuliah aktif di bidang bisnis seperti agen kost-kostan, budidaya ternak ikan nila, jual beli kendaraan bermotor dan lainnya di bidang jasa.
Juga aktif dalam sosial bersifat budaya Batak. Sempat menjadi ketua Naposo Punguan Raja Borbor Yogyakarta 2016/2018. Saat menjalankan tugas sering membuat beberapa kegiatan sosial seperti silahturahmi kumpulan satu marga tiap bulan di rumah penatua yang ada di Yogyakarta, Mengunjungi panti asuhan berbagi suka cita, kegiatan olahraga,dll.

Tahun 2016 perdana melakukan praktek lapangan temtang budidaya pertanian di Ungaran, Semarang mempraktekkan tentang bagaimana cara pemupukan, perawatan tanaman perkebunan seperti kopi, teh, karet dan kelapa sawit kurang lebih 10 hari. Dan juga memulai belajar bisnis budidaya ikan nila dengan menyewa kolam 10x8 m di daerah Maguwoharjo, Sleman Yogyakarta.

Di tahun 2017 bulan April pernah membuat satu acara Pagelaran Budaya Batak yang dilaksanakan di pusat kota Yogyakarta dan sekaligua icon dari kota budaya tersebut yaitu di Titik Nol KM, Malioboro Yogyakarta
acara tersebut dibuat atas inisiatif untuk menunjukkan bahwa Indonesia kaya akan budaya contohnya dengan membuat pagelaran budaya Batak yang di dalam nya menampilkan Tarian Batak, Lagu Batak, Busana Batak dan lainnya. Acara ini adalah perdana ada di Yogyakarta yang diselenggarakan di Titik Nol KM, Malioboro Yogyakarta sehingga tidak heran banyak yang antusias datang dan beberapa sempat diliput di media dan koran seperti (Metro Siantar) juga memasukkan info ini ke dalam koran.

Setelah mensukseskan acara tersebut saya berangkat ke Kalimantan Tengah di bulan Juli sampai dengan Oktober 2017 program Magang dari kampus ke perusahaan Kelapa Sawit. Kebetulan perusahaan tempat magang ini dalam tahap pembukaan lahan hutan menjadi perkebunan. Banyak cerita dan pengalaman saat berada di areal hutan Desa Ramang, Kab. Pulang Pisau, Kalimantan Tengah ini. Disini saya juga sempat berjualan rokok di lingkungan perumahan, karena harga rokok di area kebun relatif mahal kebetulan saya hampir setiap Minggu izin pergi ke kota jadi saya pergunakan peluang ini menyetok barang dan dijual ke perkebunan. (cerita panjang)

Sehabis pulang dari Kalimantan, saya kembali ke Yogyakarta menyelesaikan laporan magang dan skripsi yang sudah saya buat sebelumnya. Dalam tempo singkat tugas2 ini selesai sehingga di bulan April 2018 saya bisa lulus dari kampus dengan waktu kurang lebih 3,5 tahun mendapat gelar Sarjana Pertanian.

Hal yang tidak disangka banyak orang karena selama kuliah saya ini termasuk orang yang sering bepergian dan lebih aktif di luar kampus. Saya juga sering memanfaatkan waktu kosong untuk travelling ke luar kota dibanding di area Jogja. 

Setelah wisuda, saya merasa tidak tertarik untuk melamar kerja di perusahaan atau perkebunan kelapa sawit karena tidak sesuai dengan diri saya. (pengalaman karena sempat bekerja di Jakarta dan merasakan magang di Perkebunan). Saya lebih tertarik di bidang bisnis tetapi berkaitan dengan pertanian.

Di bulan Juli, saya menghubungi temanku di Lembang, Jawa Barat dgn tujuan saya ingin melihat situasi pertanian hortikultura, belajar lagi dan terjun di bisnis pertanian langsung. Sebulan saya mempelajari tentang hortikultura, sosial dan lingkungan sekitar saya mencoba membuka lahan pertanian seluas 1000m2 kurang lebih untuk budidaya sayuran. Disitu saya menikmati prosesnya karena terjun langsung dan belajar dengan petani-petani yang sudah kompeten dan berpengalaman. 
Sebulan setelah lahan ini terbuka dan proses pengerjaan selesai, saya sering berhubungan dengan dinas-dinas pertanian Prov. Jawa Barat mengikuti pelatihan2, diskusi, dan juga mengikuti rapat-rapat dengan staf kementrian pertanian di Jakarta dengan seorang rekan Petani senior yang berprestasi di Indonesia. Seiring berjalan waktu, saya banyak mengenal orang-orang baru yang bisa dibilang hebat tak jarang juga bertemu langsung dengan petinggi2 instansi seperti Menteri Pertanian, Kepala Dinas Pertanian, Pengusaha2 Pertanian dan Petinggi TNI AD di Bandung. Saya sempat menjalankan pembukaan lahan dari seorang Perwira TNI di Lembang Jawa Barat. Disitu saya sangat bersyukur saya bisa memiliki relasi yang baik, keuangan stabil, perputaran dagang ada karena saya setiap Minggu bisa memasok sayuran ke cafe, pameran dan juga pernah memasok sayuran Baby buncis ke perusahaan untuk di ekspor ke Singapura. 
Hari-hari berjalan begitu cepat dan bermakna bagi saya. Ilmu baru, pengalaman baru, wawasan baru dan relasi-relasi baru. Tidak terasa saya sudah 6 bulan di Lembang, Jawa Barat. 

Banyak hal-hal yang saya dapat dan sangat pantas untuk di syukuri ketika berada disana.

Hingga pada saar natal 2018 tiba, saya berencana pulang ke kampung halaman di Pematang Siantar, Sumatera Utara. 
Ketika saya pulang ke Pematang Siantar, saya banyak menghabiskan waktu mensurvey lahan-lahan pertanian, bertemu banyak petani, masyarakat2 sekitar pertanian dan pedagang2 sayuran.
Pertama saya survey adalah Sidikkalang, Dairi. , Parapat,  Saribu Dolok, Sipahutar,Tapanuli Utara. Dll.
Ketika saya survey tempat2 tersebut, saya menjadi mengurungkan niat kembali ke Lembang karena dengan melihat prospek pertanian di Sumut sendiri sangat baik jika bisa dikelolah dgn SOP yang ada di Lembang, Jawa Barat.

Saya mempertimbangkan dari segi kontur lahan di Sumut rata2 datar, tanah nya subur, luas, biaya sewa lahan lebih murah, produksi lebih murah dan juga ini adalah kampung saya sendiri. Saya bisa bertemu dengan keluarga kapan saja kalau ada genting karena jaraknya lbh dekat.
Hingga saat ini saya masih menajamkan planning untuk membuka pertanian di Sumut. Beberapa dari tempat yang saya survey saya tertarik di daerah Sidikkalang,Dairi. (untuk alasannya bisa di post di lain waktu)
Semoga dalam waktu dekat bisa merealisasikan planning yang sudah dibuat agar bisa lagi menceritakan pengalaman2 baru agar kita bisa saling berbagi informasi.

Salam petani Muda!!!petaniindonesia




Jumat, 26 Agustus 2016




Negara Indonesia mempunyai penduduk sebanyak  237.641.326 jiwa menurut data resmi sensus penduduk 2010 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik. Dari sekian jumlah penduduk tersebut, ada jumlah penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) adalah sebesar 169,0 juta jiwa, terdiri dari 84,3 juta orang laki-laki dan 84,7 juta orang perempuan. Begitu banyaknya jumlah penduduk usia kerja di Indonesia, membuktikan bahwa  Indonesia tidak hanya membutuhkan seorang pemimpin Negara yang hebat. Namun, penerus bangsa juga tidak kalah penting sebagai calon pemimpin bangsa di kemudian hari.
Pemecahan masalah Negara tidak lepas dari peran pemuda Negara ini.  Salah satunya adalah masalah kemiskinan yang masih menjadi momok utama di Indonesia. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2012 mencapai 29,13 juta orang (11,96 persen), berkurang 0,89 juta orang (0,53 persen) dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2011 yang sebesar 30,02 juta orang (12,49 persen). Pemuda tidak bisa hanya tinggal diam menunggu pemerintah turun tangan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Tapi, mereka dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut perlahan-lahan. Mau tahu bagaimana caranya? Gampang, buka aja tuh  lapangan kerja. “Lho? Kok lapangan kerja?” . Lapangan kerja membuka lowongan pekerjaan bagi rakyat Indonesia. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Agustus 2012 mencapai 6,14 persen, mengalami penurunan dibanding TPT Februari 2012 sebesar 6,32 persen dan TPT Agustus 2011 sebesar 6,56 persen.
 Bukan sembarang pemuda yang mampu melakukan hal tersebut. Tetapi pemuda yang kreatif, tangguh, mandiri dan inovatif yang mampu mengubah Indonesia di mata dunia. Indonesia memang masih sangat membutuhkan pemuda-pemuda yang mampu berkompetisi dalam kerasnya persaingan berwirausaha. Menurut data, jumlah pengusaha atau entrepreneur di Indonesia baru 0,18% dari total penduduk Indonesia. Artinya baru sekitar 450.000 (data majalah Kesra-Menko Kesra menyebutkan 400.000 orang) penduduk Indonesia yang membuka usaha sendiri dan tidak tergantung bekerja pada pemerintah atau orang lain. Kalau setiap pengusaha mempekerjakan rata-rata 10 orang, maka baru ada 4,5 juta orang yang mampu diberdayakan. Padahal idealnya sebuah negara akan maju jika minimal 2% penduduknya jadi pengusaha, baik pengusaha kecil, pengusaha menengah, ataupun pengusaha besar. Misalnya Amerika Serikat memiliki 12% pengusaha dari total penduduknya, Singapura 7%, Cina dan Jepang 10%.
Coba bayangkan saja jika pengusaha di Indonesia setidaknya bisa mempunya pengusaha 7% saja dari jumlah penduduknya. Selain dapat memperbaiki ekonomi di Indonesia, kita-pun pasti bangga jika negara kita dapat ‘perlahan-lahan’ dapat menjadi mandiri. Maksud mandiri adalah Indonesia  tidak lagi bergantung dengan hutang yang dipinjam dari Bank Dunia atau Negara lain. Diharapkan dengan meningkatnya jumlah pengusaha di Indonesia, hutang yang dimiliki oleh Indonesia dapat tertutupi perlahan-lahan. Indonesia-pun juga bisa bersaing dengan negara-negara maju lainnya.  Bayangkan saja, Hingga April 2012 jumlah utang pemerintah mencapai Rp 1.903 triliun. Hal tersebut pasti akan memberatkan beban kita semua apalagi anak cucu kita nanti. Untuk itulah, mulai sekarang mari kita semua bangun bangsa ini dengan sikap tangguh dan bantulah penerus bangsa kita untuk terus mengembangkan ide kreatif dan inovatif.